Jumat, 09 November 2012

Kita semua bisa jadi pahlawan

10 november

ya.. hari ini peringatan hari pahlawan, hari dimana dahulu pahlawan-pahlawan kita kembali harus berjuang pasca proklamasi di tahun 1945. Bukan sejarah bagaimana perjuangan mereka yang ingin saya ceritakan di sini, karena sudah jelas kita rasakan saat ini buah dari perjuangan bung Tomo dan kawan2, saya tertarik pada kenyataan bahwa kita masih bisa menemukan sosok pahlawan di masa sekarang yang secara de jure kita sudah merdeka. 

siapa saja mereka? 

mungkin kamu termasuk di dalamnya, atau kalau merasa belum, kamu pasti bisa menjadi "mereka"

Sosok pahlawan pertama yang saya temukan ada dalam tokoh ibu guru dalam film "Tanah Surga, katanya", bagi yang sudah menonton tentu tau ibu guru Astuti, seorang guru muda yang rela di tempatkan jauh di pedalaman Kalimantan tepat di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Diceritakan bahwa ibu Astuti adalah satu-satunya guru yang ada di desa itu, ia harus mengajar murid-murid yang hanya terdiri dari kelas empat dan lima sekaligus dengan keadaan sekolah yang tidak layak guna. Ya, dia lah ibu Astuti yang begitu sabar mengajar anak-anak didik yang keadaannya jauh di bawah standar siswa di sekolah dasar negeri di kota lain. Tapi ia terlihat sangat bahagia dan menikmati keadaannya. Mengapa saya anggap dia sebagai sosok pahlawan? bisa kita bayangkan, seorang guru perempuan, belum menikah, sudah diangkat menjadi pegawai negeri, sudah mengajar di tempat yang layak, tapi mau ditempatkan di pelosok negeri yang untuk sekedar mengambil gaji pun harus menempuh perjalanan satu hari satu malam menyusuri sungai dan rawa yang pasti banyak buayanya, tinggal jauh dari keluarga, jauh dari kehidupan modern, jauh dari gaya hidup seorang lajang seusianya, meskipun cerita awal ia ditempatkan hanya karena kebetulan, tapi saya melihat keikhlasan dalam tokohnya. 

Ketika menonton film ini kebetulan saya baru lulus menjadi sarjana pendidikan, dan sangat terinspirasi dari sosok ibu Astuti, dan saat saya iseng menanyakan pada ibu saya, "bu.. kalau aku ngajar di Kalimantan, ibu ngijinin gak? tergantung Kalimantannya, kata ibu saya sambil nyengir, yang itu tandanya bahkan orang tua pun sebisa mungkin menghindari anaknya ditempatkan didaerah terpencil, ibu Astuti memang seorang pahlawan menurut saya, terlepas bahwa ini hanyalah tokoh rekaan, tapi saya 1000 persen yakin, sosok ibu Astuti ada dan menjelma pada mereka2 ibu/bapak guru di daerah-daerah terpencil Indonesia, mereka pahlawan? tentu saja.

Sosok pahlawan lainnya masih saya temukan dalam film yang sama, pada tokoh dokter Anwar, seorang dokter muda lulusan perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung, masih sama kagumnya saya.

Dalam sebuah dialog antara dokter Anwar dengan ibu Astuti mengenai alasan masing2 mengapa mau ditempatkan di daerah terpencil, dokter Anwar menjawab dalam redaksi saya bahwa tujuan awal menjadi dokter adalah menjadi penolong bagi yang sakit, saat ia lulus dan menjadi dokter di Bandung, ia merasa tujuannya tidak tercapai maksimal di kotanya, karena sudah ada begitu banyak dokter di Bandung (tentu saja :), sehingga ia memutuskan untuk bersedia ditempatkan di daerah terpencil di Indonesia. Apakah sosok dokter Anwar seorang pahlawan? tentu saja, karena coba lihat bagaimana kehidupan para dokter di kota kita sekarang? mapan, modern, dan sederet predikat "menyenangkan" dalam kacamata manusia, sehingga tak heran banyak orang tua ramai-ramai menyekolahkan anaknya di kedokteran. 

dokter Anwar? jauh dari kehidupan seorang dokter umumnya, diceritakan ketika baru sampai di desa itu, ia rela hujan-hujanan ketika ada seorang warga yang memanggilnya hanya karena sapinya sakit dan meminta dokter Anwar untuk menyembuhkannya (sapi? hahaha), atau ia bahkan harus menggantikan ibu Astuti mengajar saat ibu Astuti mengambil gaji ke kota, tidak hanya menjadi dokter dengan gengsi dan penghasilan tinggi karena pasiennya antri mengular, tapi menjadi dokter dengan jiwa kepahlawanan yang ikhlas di bayar dengan pisang, singkong, atau hasil kebun lainnya. Sosok dokter Anwar memang seorang pahlawan menurut saya.

itukan tokoh rekaan? 

walaupun rekaan, saya yakin pasti ada tokoh2 aslinya di luar sana

dan itupun terbukti...

ketika saya mendapat amanah untuk terjun di posyandu desa saya (saat itu saya baru lulus kuliah), saat terjun kelapangan saya baru tahu bahwa selain PUSKESMAS di desa saya itu ada yang namanya PUSKESDES, alias pusat kesehatan desa, awalnya saya masuk dan datang ke sana untuk mengambil data-data posyandu pada bulan itu sebagai laporan kepada pemprov, ketika masuk, saya kira itu hanya tempat posyandu biasa karena ukurannya yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kamar utama rumah saya, di dalamnya ada dua ruangan pemeriksaan dan satu ruang registrasi pasien, keadaan pagi itu ramai, saya bingung, ngapain ni orang pada disini, keliatan belom pada mandi pula, apa tempat ini sekaligus digunakan sebagai balai desa, bingung saya, sampai akhirnya diketahui bahwa ada yang baru melahirkan subuh tadi dan orang-orang yang ramai itu adalah keluarganya, saya langsung ngebayangin, di tempat sekecil ini dipake ngelahirin? dibantu bidan dan asisten bidan, ckckckck luar biasa, selama ini yang saya tau melahirkan itu harus di tempat yang layak dan ada fasilitas berupa ruang persalinan yang terpisah dengan ruang pemeriksaan, bersama dokter, suster dan bidan dengan personil lengkap, tapi keadaan yang jauh dari bayangan saya ini ternyata nyata adanya. 

Ketika saya datang sang asisten bidan tampak baru selesai memandikan bayi, dan terlihat sangat letih, karena semalaman tidak tidur (saya tau bahwa proses melahirkan itu lama dari mulai bukaan satu sampai akhirnya bener2 siap meahirkan bisa seharian/semalaman penuh). Luarbiasa, di desa ini masih ada bidan yang ikhlas menolong hanya dengan bayaran gaji sebagai pegawai negeri dari pemerintah (ya gaji pns yang hanya berapa juta rupiah setiap bulannya), dengan tuntutan pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu dan menguras tenaga karena peralatan yang seadanya. Ya saya sendiri melihat di kota-kota besar, biaya persalinan itu sangat mahal, seorang dokter dan bidan bisa dibayar jutaan rupiah dalam sekali melahirkan. 

ketika saya keluar dari Puskesdes, barulah terbaca oleh saya sebuah kertas pengumuman yang menempel di kaca jendela Puskesdes "Menerima Persalinan 24 jam", Subhanallah, Luar biasa. apakah ibu bidan dan asistennya seorang pahlawan? menurut saya mereka pahlawan.

Pahlawan selanjutnya saya temukan dalam sosok ibu penjua cireng isi depan sekolah adik saya, saat itu kebetulan saya sedang menunggu ibu pokja posyandu di kelurahan, karena ketika saya tiba, ibu itu belum datang, jadilah saya menyempatkan jajan sembari menunggu, tak saya sangka, ketika saya jajan cireng, sang penjualnya adalah ibu-ibu paruh baya yang mungkin kerutannya lebih banyak dari bilangan usianya. sang ibu penjual cireng mengajak saya bercerita, awalnya ia menanyakan keadaan saya, siapa saya, darimana dan lain sebagainya, sampai akhirnya saya berbalik menanyakan kehidupan ibu tersebut, dari mulutnya mengalirlah sebuah cerita bahwa ia adalah ibu dari tiga orang anak, yang sudah lama ditinggal mati suaminya, kini anaknya yang paling kecil bersekolah kelas enam SD di sekolah tempatnya berdagang, ia menceritakan bahwa suaminya meninggak ketika si bungsu berusia tiga tahun, yang itu berarti sudah sekitar 9 tahun sang ibu menjanda, dan harus mencari nafkah sendiri, 

ia bercerita ia memulai berjualan jam enam pagi dan pulang jam lima sore harinya, tidak hanya di satu tempat tapi juga berpindah-pindah mengikuti kerumunan orang. saya tanya ibu kenapa gak nikah lagi? ia menjawab hmm muhun nya neng dari pada nikah dei mah entos weh mendingan ge ibu ngurus barudak, sina sakola, jualan kie we neng da pami rezeki  mah sok aya we neng mesing te gaduh caroge ge (kurang lebih artinya hmm neng daripada nikah udah ajalah ibu mah ngurusin anak2 nyekolahin mereka, dengan jualan kalau rezeki mah pasti ada walaupun gak punya suami) sambil menceritakan bahwa banyak orang yang membantu anaknya sampai bisa sekolah , saya tanya lagi, ibu jualan sampe semuanya habis? hmm kalo habis alhamdulillah kalo enggak mah pokoknya jam lima sore saya pulang harus beres-beres rumah, mencuci dan lain-lain.

tak tega meski saya penasaran, ingin bertanya berapa penghasilannya tiap hari. saya terharu, dan teringat akan perjuangan ibu-ibu lain di negeri ini, atau ayah-ayah luar biasa yang juga berjuang untuk kehidupannya dan keluarga, saya jadi inget ketika saya menonton sebuah acara di Trans7 tentang kehidupan para penambang, penambang batu bara, penambang belerang yang harus berjalan sangat jauh dengan beban puluhan kilo di pundaknya dengan resiko keamanan yang tidak terjamin, hmm untuk siapa? untuk keluarganya. Untuk keluarganyalah peluh, lelah, sakit dan segenap pengorbanan ia persembahkan, agar keluarganya bisa makan, agar anaknya bisa sekolah.

apakah menurutmu, mereka pahlawan? menurutku YA, mereka pahlawan, sama seperti ibu dan ayah kita.

masih banyak sosok-sosok pahlawan di negeri ini, 

ia yang bekerja dalam diam

teguh, syahdu dalam ketulusan

berbuat, bermanfaat bagi sekitar


tak penting baginya penghargaan, popularitas, sanjung pujian


karena apa? karena seorang pahlawan tak pernah 


menyadari kepahlawanannya"ini memang kewajiban saya", 

ucapnya...

Subhanallah...

mari kita belajar menjadi pahlawan dari sosok-sosok mereka

seorang pemulung, penjual cireng, buruh bangunan, pemadam kebakaran, petani, polisi, dokter, nelayan, guru, siswa, ibu rumah tangga, pejabat, supir, tukang pijit, bahkan penjaga pintu kereta api, semua punya peluang yang sama untuk menjadi pahlawan, karena inti dari menjadi seorang pahlawan, adalah bermanfaat sebesar-besarnya untuk orang lain. 

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” 
(HR. Thabrani)

Jika seorang pemulung bisa mengurangi dampak limbah daur ulang, ikut menjaga kebersihan lingkungan, berguna menghidupi keluarganya, dan halal yang bersama peluhnya ada ridho Allah, tentu ia adalah seorang pahlawan

Jika ibu penjual cireng yang saya ceritakan bisa menafkahi keluarganya, menyekolahkan anaknya, ikhlas melakukannya, yang bersama ketulusannya Allah ridho, tentu ia adalah seorang pahlawan, minimal untuk anak dan keluarganya.

Jika seorang buruh bangunan bekerja dengan peluh besar-besar, di bawah matahari yang menyengat, dengan gaji yang minimal, membantu terbangunnya sekolah, rumah sakit, terminal, rumah, yang dengan kerja kerasnya mendatangkan manfaat dan ridho Allah, tentu ia adalah seorang pahlawan. 

Jika seorang pemadam kebakaran berjuang memadamkan api, menyelamatkan jiwa, dengan pengorbanan luar biasa, dengan resiko yang tidak sederhana, dari perjuangannya Allah ridho, tentu ia adalah seorang pahlawan.

Jika seorang petani bekerja tak kenal waktu, mananam, memupuk, menyiram, di tengah ladang yang luas dan panas matahari yang menyengat, dengan keringatnya kita bisa makan nasi dan sayur, yang kemudian Allah ridho padanya, tentu ia adalah pahlawan.

Jika seorang polisi rela bekerja siang malam mengamankan jalur-jalur mudik, membantu yang mogok, menolong yang kecelakaan, berpikir keras mengurai kemacetan, menekan angka kriminalitas, yang dalam setiap kerjanya ia ikhlas, ridho Allah ada padanya, tentu ia adalah pahlawan.

Jika seorang ibu rumah tangga, ikhlas melakukan pekerjaan rumah tangga, mencuci baju anak dan suaminya, memasak untuk mereka, menjaga rumahnya, mengurus anaknya, menyayangi anak dan suaminya, tidak menuntut hal-hal berlebihan pada suaminya, ikhlas mendengar keluh kesah suaminya, merawat anaknya, menjadikan keluarga mereka harmonis, dinamis dan penuh cinta, meski tidak bekerja di luar, tapi suami dan Allah ridho padanya, tentu ia adalah pahlawan.

begitupun pejabat, yang memperjuangkan nasib rakyatnya, berpikir membangun bangsanya, dengan tekanan rekan-rekannya, godaan korupsi dimana-mana, tapi ia teguh dengan prinsipnya, meng-gol-kan kebijakan-kebijakan yang baik untuk rakyatnya, dengan usahanya kemudian Allah ridho, tentu ia adalah pahlawan.

ya... dalam semua keadaan selalu ada kesempatan bagi kita untuk menjadi pahlawan

bekerja dalam diam
berteman keikhlasan
tak mengharap pujian atau bayaran berlebihan 

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
 (At-Taubah [9]: 105)


mereka telah berhasil menjadi pahlawan, 
dan kita pun bisa...

ARE YOU A HERO ???

n the answer is

SURE, I will be... a HERO




cause, in every circumstance of life
there is always a chance to be a hero
to be outstanding person
minimal for yourself and those you love

Selamat hari pahlawan ! 

Salam perjuangan kawan ^_^



0 komentar:

Poskan Komentar